Karakteristik Konsumen Indonesia Pebisnis Online Harus Tahu

Karakteristik konsumen Indonesia menunjukkan peningkatan kecerdasan dalam dua tahun terakhir khususnya dalam perilaku berbelanja dengan brand-brand secara online sebagaimana dilaporkan SingPost.

Tahun 2014 MarkPlus melaporkan pengguna internet Indonesia mencapai 74,8 juta dan SingPost memprediksi bahwa sampai tahun 2016 pengguna internet Indonesia akan tumbuh sampai 102,8 juta. Hal ini sangat mungkin terjadi karena meningkatkanya kemampuan membeli kelas menengah dan persaingan ketat para penyedia gadget mobile yang menyebabkan harga paket internet semakin rendah.

Bagi Anda yang baru minat bisnis online maka postingan ini memberikan sedikit cahaya untuk menerangi pemahaman akan karakteristik konsumen Indonesia.

Media Sosial Sebagai Alat Penjualan

SingPost melaporkan triwulan pertama 2014 pengguna twitter di Jakarta ngetweet 2,4% dari total 10,6 milyar tweet dunia periode yang sama. Hal itu membuat Jakarta sebagai Ibu Kota Twitter dunia. Bagaimanapun juga, facebook tetap menjadi media sosial paling populer di Indonesia dengan 69 juta pengguna aktif. Hampir sebanyak 27% transaksi ecommerce Indonesia muncul melalui media sosial pada tahun itu.

Penggunaan media sosial untuk memfasilitasi ecommerce merupakan peluang besar untuk berbagai bisnis berorientasi konsumen memasukan media sosial sebagai salah satu pertimbangan utamanya. Kelahiran startup lokal seperti Onigi dan LakuBgt membantu pebisnis berjualan di platform media sosial. Ini merupakan indikator tambahan yang membuktikan pertumbuhan pesat social commerce di negara kepulauan Indonesia.

Siapa Konsumen Online Indonesia Sebenarnya?

Tahun 2014 Indonesia memiliki 4,6 juta konsumen online. Tahun 2015 konsumen online tumbuh menjadi 5,9 juta. Tahun 2016, SingPost memprediksi konsumen online Indonesia akan mencapai 8,7 juta. Sebanyak 20% konsumen online Indonesia memilih situs belanja online konvensional seperti Lazada, Zalora dan Blibli, sedangkan 26,4% memilih media sosial seperti Facebook dan Instagram, 26,6% akan memilih forum online seperti Kaskus dan OLX. Secara mengejutkan sejumlah besar konsumen online Indonesia lebih suka berbelanja melalui mekanisme sms marketing seperti Blackberry Messenger atau Line.

Konsumen Indonesia tergolong lambat dan tidak mau mengambil resiko terhadap teknologi maupun produk baru sebagaimana dianalisa oleh McKinsey and Co. Pilihan media seperti forum dan medsos memungkinkan interaksi dengan penjual atau konsumen lainnya. Ini  sangat disukai sehingga konsumen dapat bertanya atau menerima rekomendasi sebelum memutuskan pembelian.

Meskipun konsumen online Indonesia berbelanja beragam jenis produk namun produk populer adalah pakaian dan akesorisnya yang mencapai 61,7% dari total pembelian online tahun 2014. Konsumen perempuan teratas dalam dunia ecommerce Indonesia dengan kecenderungan membeli baju, smartphone, perlengkapan jalan-jalan, laptop dan aksesoris elektronik lainnya.

Desentralisasi Konsumen

Tahun 2014 total belanja Indonesia mencapai US$ 363,42 milyar pada sektor retail dan hanya sekitar US$ 1,8 milyar pada ecommerce. Tahun 2015 total belanja itu meningkat US$ 411,29 milyar pada retail dan US$ 2,6 milyar pada ecommerce. Tahun 2016, SingPost memproyeksikan belanja konsumen Indonesia sampai US$ 543,07 milyar pada sektor retail dan US$ 4,49 milyar pada ecommerce. Jumlah itu masih kurang dari 1% total belanja.

Sekalipun Jakarta pendorong utama pertumbuhan ecommerce, sebanyak 70% pesanan online konsumen Indonesia berasal dari daerah pedesaan. Konsumen di daerah ini masih sulit menemukan mall untuk berbelanja. Itu sebabnya segmen ini mewakili segmen besar konsumen yang belum tersentuh. Ini menyebabkan peluang besar untuk perusahaan online menjangkau mereka menawarkan pengalaman berbelanja online yang nyaman tanpa masalah jarak yang jauh.

Mengenal Pemain Utama Situs Belanja Online

Tahun 2013, Amazon merupakan yang teratas dalam hal situs belanja online di Indonesia. Sekalipun tidak hadir secara nyata di Indonesia, tanpa dukungan logistik, pilihan luas akan produk menyebabkan kunjungan dari Indonesia cukup besar. Lazada Indonesia, jawaban dari kendala Amazon tadi melakukan lompatan besar di tahun 2014. Penyebab Lazada teratas karena situs belanja online itu melakukan perubahan orientasi konsumen elektronik menjadi lifestyle ditambah usaha marketing Bahasa Indonesia.

Menangkap potensi karakteristik konsumen Indonesia, perusahaan Jepang memasuki pasar dengan Rakuten belanja Online yang sekarang melaksanakan operasional secara lokal. Dalam sebuah kultur yang memiliki karakteristik konsumen online beragam dengan kemauan mengambil resiko sangat rendah, sebuah strategi marketing lokal seperti menambahkan kata “Belanja” dalam nama situsnya.

Bulan Mei 2014, Kaskus melaporkan 6,8 juta pengguna baru yang menciptakan 4000 “thread” baru setiap hari. Kaskus juga menerima 750 juta pageviews dan 25 juta unique visitors setiap bulannya. Seorang pengunjung biasanya menghabiskan waktu sekitar 29 menit di Kaskus setiap hari. Pesaing utama Kaskus adalah OLX (dulunya TokoBagus). OLX merupakan komunitas ecommerce terbesar dan situs lokal terbesar ketiga di Indonesia.

Pasar konsumen Tokopedia mengaku memiliki 10 juta pengunjung rutin setiap bulan dengan rata-rata pembelian 2 juta produk per bulan tahun 2014. Sebuah perusahaan berkembang SoftBank dan Sequioa Capital menginvestasikan US$ 100juta pada Topopedia sehingga beradu langsung dengan Lazada dan Kaskus.

Tantangan Unik Memahami Karakteristik Konsumen Indonesia

Saat ecommerce dibangun di Indonesia, tantangan terbesar untuk sebuah brand baru harus mampu meyakinkan konsumen bahwa toko online mereka terpercaya. Selain itu perlu diingat juga bahwa karakteristik konsumen Indonesia masih enggan untuk membayar secara online. Velasia melansir bahwa pembayaran bank transfer paling populer dalam membayar transaksi online diikuti COD (cash on delivery), diikuti kartu kredit. Kurang dari 5% populasi Indonesia memiliki kartu kredit, dan pembayaran dengan kartu kredit masih kurang dari 10% dari pembayaran online di ecommerce Indonesia.

Bertambahnya kemacetan dan meningkatnya penetrasi internet akan mendorong minat berbelanja online. Bertambahnya permintaan untuk solusi logistik yang lebih canggih untuk bisnis ecommerce akan membawa investasi dari pemain besar dunia di Indonesia.

Situasi bisnis online di Indonesia akan membuka peluang usaha semakin besar dalam konteks ecommerce. Hal penting untuk mempertimbangkan lokalisasi dan mekanisme pembayaran termasuk sistem logistiknya merupakan kombinasi sempurna untuk mendapatkan kepercayaan konsumen online Indonesia.

Leave a Reply

CommentLuv badge

Promo Hari Buruh. Sepatu Untuk Pengendara Motor, All Bike Ap Boots Hanya Rp42.000,- Bayar DitempatBeli Sekarang