Teknologi Wireless Saat Ini : Generasi Baru Siap Meluncur

  • 4
    Shares

Momentum Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang Korea Selatan yang sedang berlangsung membawa pengalaman baru untuk pemirsa. Semua orang dapat berpartisipasi langsung setidaknya secara virtual. Banyak peserta akan ditonton dengan kamera video 360 derajat. Teknologi ini mampu streaming gambar melalui jaringan wireless. Pada beberapa lokasi penggemar olah raga akan mampu menyaksikan secara virtual reality langsung pada aksinya. Terbang disamping pemain ski, misalkan, akan menawarkan adrenalin tinggi tanpa takut resiko pendaratan yang keras.

Pengalaman virtual ini ditawarkan oleh KT, perusahaan telekomunikasi terbesar Korea Selatan. Mereka menunjukkan generasi terbaru dari teknologi wireless yang dikenal dengan 5G. Namun demikian seiring dengan pelompat ski tidak tahu pasti sejauh apa dia melompat, belum jelas sampai mana 5G akan mendarat.

Di atas kertas, teknologi baru ini seharusnya mampu melompat jauh. International Telecomunication Union (ITU), sebuah badan PBB yang membantu pengembangan standar teknologi, telah menyetujui persyaratan ambisius untuk teknologi ini. Teknologi 5G akan menawarkan kecepatan download sampai 20 GB per detik, waktu respon kurang dari 1 milidetik dan kemampuan untuk terhubung dengan setidaknya 1 juta alat dalam cakupan 1 km2. Jadi jaringan 5G seharusnya mampu mentransfer film penuh dengan resolusi tinggi dalam dua detik, respon 100 kali lebih cepat dari kedipan mata dan melayani kota padat penduduk yang terhubung dengan gadget.

Ketika 5G dikenalkan, bandwith terlihat tanpa batas. Hal ini diungkap Alex Choi, CEO SK Telecom, perusahaan telekomunikasi kedua terbesar Korea Selatan. Teknologi ini memungkinkan semua jenis layanan data yang diujicobakan oleh SK di dekat Seoul. Salah satunya adalah tawaran virtual reality yang memungkinkan orang memanjakan diri dengan ruang digital di sekitar stadion.

Kecerdikan teknologi 5G lainnya terlihat pada Ericsson, produsen perlengkapan jaringan. Jika sebelumnya Ericsson merupakan gedung disebelah markas besarnya di Stockholm, tekonologinya mendemonstrasikan “pembelahan jaringan”, sebuah teknik untuk menciptakan pemesanan jaringan. Antena mampu membuat jaringan wireless terpisah, untuk memberikan layanan apapun mulai dari smartphone dan sensor wireless sampai robot industri dan mobil otomatis. Setiap alat akan mendapatkan jaringan yang mereka butuhkan.

Flesibilitas tersebut, bersamaan dengan persyaratan ITU, mampu membuat 5G sebagai pelapis jaringan untuk internet. Hal ini seiring dengan alat yang terhubung secara kolektif. Jaringan berbasis 5G mampu terhubung dan mengendalikan robot, peralatan medis, perlengkapan industri sampai mesin agrikultur.

Baca: Cara Riset Password Windows 10

Industri telekomunikasi telah banyak mengendarai 5G. Produsen perlengkapan jaringan seperti Ericsson dan Nokia menginginkan kebangkitannya untuk peralatan mereka, yang telah menurun sejak investasi 4G memuncak beberapa tahun silam. Negara-negara juga memperkuat 5G. Tertinggal di beberapa generasi wireless sebelumnya, negara-negara Asia ingin memimpin pada perkembangan terbaru. Memanfaatkan momentum Olimpiade Musim Dingin untuk memamerkan dan meluncurkan 5G bukanlah hal unik untuk Korea Selatan. Jepang akan melakukan hal serupa untuk 2020 ketika Tokyo akan menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas dan NTT DoCoMo, operator terbesar di Jepang, ingin memulai penawaran layanan 5G secara komersial. Di Negara China, pemerintah, operator dan produsen perlengkapan local seperti Huawei dan ZTE akan meluncurkan percobaan besar teknologi 5G.

Di Amerika ketika kompetisi antara AT&T, Sprint, T-Mobile dan Verizon sudah mempercepat pertumbuhan 5G, kebijakan industri mungkin saja mempercepat perkembangannya. Sebuah bocoran akan catatan dari Gedung Putih oleh pejabat National Security Council bahkan membahas kemungkinan jaringan 5G secara nasional untuk memberikan infrastruktur handal dan aman bagi warga Amerika Serikat.

Dibalik semua hal positif itu, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah spectrum radio, yang meningkat sampai jenuh pada tingkat frekuensi rendah yang lazim digunakan jaringan mobile. Spektrum gratis berlimpah di tingkat frekuensi tinggi, lazimnya untuk penggunaan gelombang radio. Untuk jaringan internet, semakin tinggi tingkatan frekuensi, semakin sulit teknologinya sesuai penjelasan dari Stéphane Téral dari IHS Markit, sebuah lembaga penelitian.

Gelombang milimeter menyediakan banyak bandwith, masalahnya daun sekalipun akan memblok gelombang ini. Perkembangannya akan membutuhkan sambungan langsung untuk berfungsi atau harus dipantulkan pada setiap rintangan sehingga akan membutuhkan daya komputasi yang sangat besar.

Perangkat keras merupakan tantangan lainnya. Beberapa peralatan vendor telah menggembar-gemborkan bahwa alat mereka “Siap 5G”, hanya perlu upgrade perangkat lunak untuk berfungsi. Nyatanya, sekalipun perlatan mudah diperbarui, mayoritas operator masih harus menyesuaikan jaringan mereka. Frekuensi tinggi radio tidak dapat pergi jauh, sehingga perusahaan harus mendirikan basis stasiun (komputer yang memberikan daya jaringan pada antena). Sama halnya untuk perangkat mobile, perubahan besar harus dilakukan untuk teknologi 5G agar mampu menggunakan gelombang milimeter, dengan teknologi terkini, daya komputasi untuk memproses sinyal akan menguras baterai secara instan.

Namun demikian, tantangan terbesar dari teknologi 5G adalah ekonomi. Ketika GSMA, kelompok industri, tahun sebelumnya menanyai 750 pemimpin telekomunikasi tentang resiko utama menyediakan 5G, hamper separuh pemimpin mengatakan “kurang pengalaman bisnis”. Rasa pesimis ini bersifat taktis. Jika operator lebih antusias, vendor peralatan akan menaikan harga mereka. Terlepas dari kendala itu, 5G sepertinya tidak akan menjadi lumbung uang yang besar. Kenapa demikian?

Ini karena kebanyakan orang tidak ingin membayar lebih mahal lagi untuk teknologi ini. Pendapatan per gigabyte data sudah terjun bebas hamper 50% antara 2012 dan 2015. Biaya per gigabyte belum turun sehingga tidak sebanding dengan mahalnya membangun teknologi 5G. Karena membangun frekuensi tinggi, 5G akan membutuhkan lebih banyak antenna, basis stasiun dan kabel serat fiber untuk menghubungkan semuanya. Dan sebelum perusahaan dapat meraih keuntungan maksimal “pembagian jaringan”, misalkan, mereka harus meningkatkan kapasitas komputer sampai ke dasarnya untuk jaringan mereka.

Operator sepertinya tidak akan menaiki investasi 5G dengan cepat sebagaimana diprediksi oleh Bengt Nordstorm dari Northstream, konsultan telekomunikasi. Ketimbang melakukan itu, mereka akan melakukannya secara bertahap. Beberapa akan menggunakan teknologinya untuk menyediakan link wireless super cepat (hal ini resikonya lebih kecil). Verizon dan AT&T sudah mengunkap rencana mereka menawarkan layanan ini di Amerika tahun 2018. Penyedia lainnya akan menjalin jaringan 5G untuk melayani kota padat penduduk, yang kemungkinan besar banyak terdapat di Asia. Beberapa lainnya akan meluncurkan layanan privat seperti jaringan di pelabuhan atau tambang.

Baca: Cara Buka Website yang Diblokir

Dengan kata lain, lintasan 5G akan berbeda dari pemain lompat ski manapun. Mungkin saja 5G akan tidak terdengar cukup lama sebelum meluncur. Jika ini kondisinya, 5G akan tumbuh seperti 3G, teknologi mobile yang dikenalkan pada awal 2000-an. 3G mengecewakan sampai ditemukannya “aplikasi pembunuh” dengan smartphone di decade terakhir. Hanya dengan 4G-lah jaringan mobile kembali hidup untuk memenuhi janji 3G, seperti mampu melihat streaming video. Jika demikian, mungkin saja kita harus menunggu kemunculan 6G untuk memberikan janji layanan 5G.


  • 4
    Shares

One Response

  1. ade sunandar Februari 14, 2018

Leave a Reply

Close
HP Kamu Bisa Jadi Ladang UangIni Caranya
+