Alasan Suatu Negara Melakukan Ekspor dan Impor

Alasan suatu negara melakukan ekspor dan impor apa sebenarnya? Jika sebuah negara bisa memenuhi kebutuhan sendiri kenapa harus ekspor? Atau kenapa bisa sebuah negara harus impor? Mungkin pertanyaan sederhana ini sedikit membingungkan untuk dijawab.

Jika ada hal yang membuat pengamat ekonomi setuju tanpa perdebatan mungkin salah satunya adalah perlunya dilakukan ekspor dan impor antar masing-masing negara. Kegiatan itu akan membuat perekonomian menjadi lebih baik. Meskipun demikian, sebuah perdagangan internasional bisa menjadi masalah politik sensitif baik dari sisi domestik antar pemerintahan.

Saat sebuah perusahaan atau individu membeli sebuah barang atau jasa yang lebih murah di produksi di negara lain, standar kehidupan kedua negara akan naik. Alasan lain kenapa baik jika konsumen atau perusahaan membeli dari negara lain yaitu produk itu mungkin lebih bisa memenuhi kebutuhan ketimbang produk sejenis di dalam negeri atau bahkan tidak tersedia di dalam negeri.

Produsen asing juga akan mendapat keuntungan dengan menciptakan penjualan lebih banyak ketimbang hanya berjualan di dalam negeri dengan mendapatkan pembayaran mata uang asing yang bisa dimanfaatkan untuk membeli barang-barang asing.

Tetap saja, sekalipun komunitas melakukan aktivitas perdagangan, belum tentu semua individu atau perusahaan menjadi lebih baik. Saat perusahaan membeli produk dari negara lain karena harga lebih murah, perusahaan itu untung. Namun lebih merugikan karena produsen lokal akan berkurang penjualannya. Dalam kondisi seperti itu, biasanya konsumen akan menderita lebih banyak kerugian ketimbang produsen.

Alasan suatu negara melakukan ekspor dan impor yang positif adalah jika perdagangan itu terjadi ketika sebuah impor terjadi karena barang/jasa itu lebih efisien dan murah di produksi di negara eksportir. Pengecualiannya adalah jika aspek perdagangan mengecualikan biaya sosial seperti polusi.

Untuk mereka yang merasakan dampak persaingan internasional akan menentang perdagangan internasional. Tidak lama setelah ekonom seperti Adam Smith dan David Ricardo mendirikan dasar perdagangan bebas, sejarawan Inggris Thomas B Macaulay mengamati permasalahan praktis yang dihadapi pemerintah saat menerapkan konsep “perdagangan bebas”. Sampai sekarang perdebatan ini masih saja terjadi.

Alasan Suatu Negara Melakukan Ekspor dan Impor

David Ricardo mengamati jika perdagangan didoring oleh komparatif ketimbang biaya absolute (untuk memproduksi barang). Satu negara mungkin lebih produktif ketimbang negara lain memproduksi hampir semua barang, dalam nuansa, negara itu mampu memproduksi dengan bahan baku lebih minim (seperti modal uang dan tenaga kerja) ketimbang modal negara lain untuk memproduksi barang yang sama.

Pandangan David Ricardo adalah bahwa negara seperti itu akan mampu mendapat keuntungan dari perdagangan menurut keuntungan komparatif, melakukan ekspor atas produk yang keuntungan absolutnya paling besar dan melakukan impor atas produk yang keuntungan absolutnya paling minim.

Sekalipun sebuah negara A mungkin dua kali lebih produktif dalam memproduksi pakaian dibanding negara B (mitranya), jika negara Ajuga tiga kali lebih produktif memproduksi besi baja, atau pesawat, akan lebih menguntungkan bagi negara A untuk mengekspor besi baja dan pesawat kemudian mengimpor pakaian dari negara B. Negara B akan mendapat akses untuk ekspor pakaian yang memiliki unsure komparatif namun bukan absolute.

Pandangan akan keuntungan komparatif juga berlaku untuk barang non fisik seperti produk jasa keuangan. Karena keuntungan komparatif inilah perdagangan meningkatkan standar hidup di kedua negara.

Douglas Irwin menyebut keuntungan komparatif sebagai “kabar baik” dari pembangunan ekonomi. Sekalipun jika negara berkembang tidak memiliki keuntungan absolut, akan selalu ada keuntungan komparatif dalam memproduksi beberapa barang. Tentunya dengan demikian, akan memiliki keuntungan melalui perdagangan internasional.

Perbedaan dalam keuntungan komparatif bisa meningkat untuk beberapa alasan.

Pada awal abad ke-20, ekonom Swedia, Eli Heckscher dan Bertil Ohlin mengidentifikasi peran tenaga kerja dan modal (faktor sumbangan) sebagai penentu keuntungan tersebut. Pandangan Heckscher – Ohlin itu meyakini jika suatu negara cenderung akan melakukan ekspor barang jika produksinya mengintensifkan penggunaan banyak faktor produksi. Negara yang kaya akan modal (pabrik dan mesin pabrik) melakukan ekspor produk intensif-permodalan. Negara yang kaya di tenaga kerja akan melakukan ekspor produk intensif-tenaga kerja. Ekonom saat ini berpikir jika sekalipun faktor sumbangan ini penting, ada pengaruh lain pada pola perdagangan.

Riset akhir-akhir ini menunjukkan bahwa ketika perdagangan menjadi terbuka, akan diikuti dengan penyesuaian tidak hanya oleh sektor industri, namun juga di dalam perdagangan itu. Meningkatnya kompetisi dari perusahaan asing akan menekan keuntungan, memaksa perusahaan yang kurang efisien untuk menyusut, membuat perusahaan lain yang lebih efisien berkembang. Ekspansi ini mengenalkan teknologi lebih baik dan keragaman produk. Yang lebih penting lagi, perdagangan akan memberikan akses lebih kepada banyak produk (misalkan kulkas). Ini menjelaskan pemerataan atas perdagangan intra industri (misalnya negara eksportir kulkas mungkin mengimpor alat pendinginnya). Dengan ilustrasi itu, faktor sumbangan tidak relevan.

Terdapat kejelasan akan keuntungan efisiensi dari perdagangan yang menghasilkan produk lebih, tidak hanya atas produk yang sama melainkan untuk produk yang beragam.

Sebagai contoh misalnya, Amerika Serikat mengimpor empat kali lebih banyak jenis (sebut saja jenis mobil) ketimbang aktivitas serupa di tahun 1970-an, sedangkan jumlah negara supplier mobil bertambah. Keuntungan lebih besar lagi dimungkinkan dari investasi yang menghasilkan akses lebih banyak kepada input intermediasi dan modal berkualitas.

Model ekonomi biasanya menilai dampak perdagangan mengabaikan aspek transfer teknologi dan pro kompetitif yang memaksa ekspansi keragaman produk. Ini terjadi karena dampak itu sulit untuk dijabarkan dan hasil jika menggabungkan hal itu biasanya berujung pada ketidakjelasan. Peneliti menyimpulkan bahwa keuntungan reformasi perdagangan seperti menurunkan tarif atau hambatan non tariff lainnya jauh lebih banyak dibandingkan apa yang disarangkan oleh model konvensional

Kenapa Reformasi Perdagangan Sulit

Perdagangan memberikan efisiensi secara global. Saat sebuah negara membuka perdagangan internasional maka modal dan tenaga kerja akan bergerak kea rah industri yang lebih efisien. Komunitas akan menerima kesejahteraan ekonomi lebih tinggi. Namun sayangnya dampak itu hanya sebagian dari cerita keseluruhan.

Sebuah perdagangan juga bisa berdampak pada tutupnya perusahaan dan industri yang tidak mampu bersaing. Pihak yang tidak dapat bersaing biasanya akan menentang perdagangan internasional. Sama halnya dengan para pekerjanya. Mereka akan mencari hambatan seperti menaikan pajak impor dan kuota untuk menaikan harga atau batasan impor

Kebijakan Perdagangan

Reformasi perdagangan sejak Perang Dunia II telah secara substansial mengurangi hambatan perdagangan yang diterapkan banyak negara. Namun demikian, kebijakan untuk melindungi industri domesticksangat beragam. Tarif bisa menjadi sangat tinggi di sektor tertentu (seperti agrikultur dan tekstil) dan pada kelompok negara tertentu. Banyak negara memiliki hambatan besar atas perdagangan jasa di bidang transportasi, komunikasi, dan keuangan dan keterbukaan untuk sektor lainnya.

Lebih jauh lagi hambatan perdagangan mempengaruhi beberapa negara lebih besar ketimbang negara lainnya. Seringkali negara yang mengalami kerugian besar adalah negara kategori “belum berkembang” yang ekspornya mayoritas produk padat karya, tenaga kerja kurang ahli yang sudah pasti dilindungi di negara maju. Amerika Serikat misalnya dilaporkan mengutip pajak 15 sen untuk setiap impor senilai $1 dari Banglades dibandingkan kutipan 1 sen untuk setiap $1 dari negara utama di Eropa Barat.

Ekonom Bank Dunia mengkalkulasi bahwa ekspotir dari negara berpenghasilan rendah menghadapi hambatan perdagangan 50% lebih tinggi ketimbang negara industri utama. Anggota Organisasi Perdagangan Dunia, yang bertindak sebagai wasit perdagangan internasional, terlibat dalam upaya rumit untuk mengurangi hambatan perdagangan dalam putaran negosiasi yang dimulai di Doha tahun 2001. Negosiasi mencakup banyak masalah, kebanyakan isu yang sensitif atas politik dalam negeri masing-masing anggotanya, termasuk menghapus subsidi ekspor produk ternak, membatasi subsidi ternak domestik, dan memotong tariff ekonomi maju untuk produk ternak dan industri.

Paham Alasan Suatu Negara Melakukan Ekspor dan Impor?

Dalam perkembangannya memang kompleksitas masalah perdagangan cukup besar. Meskipun demikian suatu negara akan selalu memiliki alasan melakukan ekspor dan impor. Berdasarkan ulasan di atas dapat disimpulkan setidaknya 3 alasan suatu negara melakukan ekspor yaitu:

  • Adanya perbedaan biaya produksi barang
  • Adanya permintaan di suatu negara yang tidak dapat dipenuhi negara itu
  • Adanya kemudahan akses permodalan dan bahan baku

Anda setuju?

Leave a Reply

CommentLuv badge

HP Kamu Bisa Jadi Ladang UangIni Caranya
+