Categories: Properti

Tren Properti Sudah Mengarah ke Hunian Apartemen? Apa Benar?

Share

Pangsa pasar properti sempat lesu terhitung mulai tahun 2015 silam. Kini di tahun 2018 sebenarnya bisnis properti belum benar-benar pulih. Namun demikian terdapat sinyalemen positif ditengah lesunya pangsa pasar properti yang ada. Sinyal ini datang dari pemberian kredit Kepemilikan Rumah Susun (atau KPRS) yang juga masuk dalam kategori Kredit Kepemilikan Rumah (atau KPR).

Bank Indonesia melansir jika periode Juni 2018, KPRS membukukan perkembangan 26,64% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebagai ilustrasi adalah KPRS dengan luas unit 22 meter sampai 70 meter persegi memiliki angka pertumbuhan paling tinggi yaitu 41,66%. Pertumbuhan ini bukan berarti tren properti sudah bergeser ke properti vertikal. Mengapa demikian? Ini penjelasannya

Pengembang hunian apartemen menyakini jika naiknya angka permohonan KPRS disebabkan karena semakin sempitnya lahan properti di lokasi strategis. Makna lainnya adalah kenaikan angka KPRS bukan karena ada pergeseran tren properti hunian.

Hal ini dikonfirmasi oleh ASVP PT Agung Podomoro Tbk, Alvin Androcinus yang menyampaikan jika pertambahan penjualan apartemen tidak memiliki makna jika konsumen sekarang lebih memilih tinggal di apartemen dibandingkan rumah tapak. Keadaan ini lebih disebabkan karena kondisi lahan yang sudah semakin sempit. Karena itu pengembang baru lebih memilih fokus pada pengembangan hunian vertikal.

Hunian tapak ini harus memakai lahan diatas 5 hektar untuk dapat mengembangkan sebuah proyek secara komplit. Karena semakin sulit mendapatkan lahan luas untuk properti, pengembang baru lebih memilih mendirikan apartemen untuk dipasarkan.

Itu sebabnya hunian tapak di lokasi strategis sudah sangat sulit didapatkan sekarang. Di sisi lain, konsumen mencari lokasi hunian di tempat strategis yang dekat dengan lokasi kerja dan fasilitas publik. Itu sebabnya konsumen tidak punya pilihan selain membeli apartemen sekarang ini.

Ketum DPP Real Estate Indonesia, Soelaeman Soemawinata mendukung informasi tadi. Ditambahkan olehnya jika pertambahan nilai penyaluran kredit apartemen tidak dapat disimpulkan terjadinya pergeseran minat konsumen properti. Itu lebih disebabkan pengembang baru lebih fokus pada pengembangan apartemen.

Related Post

Jadi sebenarnya minat konsumen akan rumah tapak tidak berkurang hanya saja jumlah pertumbuhan unit baru rumah tapak di lokasi yang diinginkan konsumen dengan harga terjangkau hampir sulit diwujudkan sekarang ini.

Sekretaris PT Intiland Development Tbk, Theresia Rustandi menyebutkan jika permintaan apartemen sekarang ini memang bertambah. PT Intiland sudah melihat kenaikan permintaan pasar ini. Dari porsi pejualan mereka pun, penjualan apartemen lebih besar dibandingkan penjualan rumah tapak.

Hal ini tergambarkan dari Rp 3,3 triliun target marketing sales Intiland tahun 2018, sektor mixed use dan high rise ditarget memberikan porsi sampai Rp 2,3 triliun. Namun tetap ini tidak diartikan adanya pergeseran minat konsumen dari rumah tapak ke apartemen.

Menurut Intiland, unit apartemen dengan luas 22 meter persegi sampai 70 meter persegi memiliki pangsa dan potensi pasar yang signifikan karena harganya terjangkau dimata konsumen. Untuk unit apartemen yang luasnya lebih dari 70 meter persegi, khususnya berlokasi di Jakarta dan Surabaya harganya dinilai terlalu mahal.

PT Agung Podomoro membenarkan jika apartemen berukuran 22 meter persegi sampai 70 meter persegi sangat laris di pasaran. Kondisi itu dikarenakan mayoritas pembeli adalah end user yang memang memakai properti hunian vertikal yang dibeli. Pilihan lokasi strategis, dekat fasilitas publik dan harga terjangkau menjadi pertimbangan yang utama.

Itu sebabnya apartemen yang dibanderol di bawah Rp 1 milyar sangat potensial. Ini karena dengan harga sebatas itu, konsumen dapat memiliki hunian di wilayah strategis sesuai kriteria kebanyakan konsumen.

Namun sekali lagi, PT Ciputra Development Tbk menegaskan jika fakta pasar properti itu belum dapat dijadikan pertanda jika ada perubahan tren permintaan pasar. Hal ini didukung dengan kenyataan jika harga apartemen di atas 1 milyar jarang didukung dengan skema kredit sedangkan rumah tapak seharga 1 milyar sudah menggunakan skema KPR oleh karenanya tampak seperti tidak tumbuh.