Ramalan Ekonomi Indonesia Tahun Baru

Tahun sudah berganti dan kini saatnya evaluasi tahun lalu dan menyusun strategi tahun baru. Untuk dunia usaha tentu saja ramalan ekonomi Indonesia tahun baru ini sangatlah penting untuk referensi pertumbuhan usaha jangka pendek dan menengah. Seperti apa ramalan ekonominya? Dan apa yang harus disikapi sebagai pelaku usaha?

Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) memberikan proyeksi perekonomian global pada tahun 2017 hanya akan tumbuh sebanyak 3,4%. Prediksi ekonomi oleh Bank Indonesia bahkan dibawah itu yaitu 3,2%.

Proyeksi Bank Indonesia didasarkan pertumbuhan politik dan ekonomi berbagai kawasan mulai dari keluarnya Inggris dari Uni Eropa sampai kemenangan Donald Trump dalam pemilu presiden Amerika Serikat.

Apa Ramalan Ekonomi Indonesia?

IMF memprediksi ekonomi Indonesia akan berkembang 5,3% di tahun 2017. IMF berpandangan bahwa kinerja ekonomi Indonesia masih biasa saja meskipun angkanya termasuk paling tinggi di kawasan Asia Tenggara di tahun tersebut.

Negara lain dikawasan diprediksi juga dapat mencatatkan kinerja keuangan lebih baik ketimbang Indonesia sekalipun lagi-lagi angka pertumbuhan tidak lebih besar. Lembaga keuangan itu juga memprediksi daya saing Indonesia akan melemah di kawasan tersebut.

World Economic Forum (WEF) seolah mengkonfirmasi hal tersebut sesuai publikasi Indeks Daya Saing Global 2016-2017 yang menjelaskan bahwa daya saing Indonesia akan turun dari peringkat 37 ke peringkat 41 dari total 138 negara yang masuk dalam daftar WEF tersebut.

Ekonomi Dunia Berdampak pada Ekonomi Domestik

Belum begitu pulihnya kondisi ekonomi duna memberikan dampak negatif pada perekonomian domestik. Beberapa diantaranya adalah menurunkan kekuatan konsumsi masyarakat. Jika kondisi ini berlarut tentu akan menjadi ancaman serius untuk dunia usaha Indonesia.

Turunnya daya beli masyarakat secara umum, maka penurunan suku bunga acuan dari Bank Indonesia tidak akan berdampak signifikan untuk investasi. Kondisi itu menyebabkan perkembangan ekonomi Indonesia tidak dapat lebih tinggi pergerakannya.

Survei Penjualan Eceran (SPE) publikasi BI pada bulan Desember 2016 menjelaskan bahwa Indeks Penjualan Riil (atau IPR) di bulan Oktober 2016 tumbuh 7,6% secara year on year (yoy). Nilai tersebut menurun dibandingkan bulan sebelumnya 10,7%. IPR ini merupakan indicator yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan penjualan secara eceran di masyarakat. Menurunnya nilai IPR sejalan dengan meningkatnya angka inflasi bulanan sejak bulan Agustus 2016. Sesuai dengan data Bank Indonesia, inflasi Indonesia pada bulan November 2016 ada di tingkat 3,58% sedangkan bulan Agustus ada di tingkat 2,79%.

Perkembangan aktivitas usaha pada kuartal ketiga tahun 2016 ikut menurun dengan tingkat penurunan terbesar terjadi pada sektor pengolahan. Penurunan terbesar selanjutnya secara berurutan terjadi pada perdagangan, restoran dan hotel, penggalian dan pertambangan, gas, listrik dan air bersih.

Pertanda itu terlihat dari hasil data Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia. Informasi itu menunjukkan Saldo Bersih Tertimbang (atau SBT) pada kuartal ketiga tahun 2016 yaitu 13,2% atau menurun dari 18,4 % di kuartal kedua tahun 2016. SBT merupakan hasil perkalian saldo bersih dan bobot setiap sub sektor ekonomi Indonesia.

Proyeksi serupa juga menjadi ramalan ekonomi Indonesia pada tahun 2017. Jika sudah demikian, apa strategi jitu pengusaha yang perlu dipersiapkan dan diterapkan untuk bisa terus berkembang ditengah kondisi ekonomi menurun?

Strategi Usaha Menyikapi Ramalan Ekonomi Negatif

Beberapa pilihan strategi yang bisa dilihat pelaku usaha dalam menyikapi kondisi ekonomi domestik maupun global seperti itu salah satunya adalah efisiensi. Keputusan efisiensi merupakan langkah pertama yang perlu diambil ketika menghadapi keadaan gejolak ekonomi.

Menyikapi ramalan ekonomi Indonesia yang cenderung negatif, untuk dunia usaha dapat sekedar bertahan, apa yang perlu dilangsingkan wajib dilakukan. Intinya itu, mengencangkan sabuk agar lebih ramping. Sekalipun efisiensi penting perlu diperhatikan juga bahwa kualitas produk atau jasa yang dibuat jangan sampai menurun.

Hal tersebut sepertinya sudah dipahami oleh PT Antam (Persero) Tbk yang telah menekan biaya produksi serendah mungkin pada situasi penurunan drastic komoditas mineral global. PT Antam menerapkan hal ini dengan menata ulang pengelolaan bahan bakar. Dalam konteks pembelian, diterapkan mekanisme Vendor Held Stock Marine Fuel Oil (atau MFO). Intinya tangki diisi full lebih dulu sedangkan pembayaran sesuai dengan pemakaian. Dengan begitu, proses produksi dapat dilangsungkan tanpa membelanjakan uang lebih dulu.

Selain bahan bakar, penghematan juga dilakukan untuk pemakaian bahan-bahan pada kegiatan operasional unit bisnis. Beberapa kontrak juga dinegosiasikan ulang untuk menjaga keuntungan.

Hal tersebut membawa hasil positif. Pada kuartal ketiga tahun 2016, PT Antam menghemat biaya operasional sampai Rp 23 milyar lebih.

Inovasi merupakan strategi penting lainnya untuk dunia usaha ditengah gejolak ekonomi. Pengamatan PT Antam bahwa minat konsumen untuk mengulang pembelian akan muncul jika ada suatu hal yang baru. Tidak hanya menarik daya beli, tingkat persaingan bisnis juga akan tetap terjaga. Hal itu bisa diraih dengan menerapkan inovasi.

Produk emas Antam misalnya, dulu hanya menjual emas batangan polos kini ada produk emas batangan dengan motif ataupun berbentuk perhiasan.

Inovasi desain dan kombinasi elemen selain emas seperti batu permata memuat konsumen tertarik untuk membayar lebih mahal demi memilikinya.

Apa Ramalan Ekonomi Indonesia Tahun 2017 Versi Anda?

Jadi efisiensi dan inovasi merupakan dua kunci utama yang vital untuk pertumbuhan dunia usaha tahun 2017 ditengah pelemahan performa ekonomi global dan domestik. Apa menurut Anda?

Leave a Reply

CommentLuv badge

Promo Hosting Murah Hanya Rp 29ribuan/bulan Gratis Domain Selamanya! Buruan cuma sampai 5 Mei 2017Beli Hosting Sekarang