Kisah Sukses Usaha Keju Lokal Indonesia

Untuk penyuka panganan keju, tentu nama keju gouda tidak asing lagi. Nama keju itu merujuk pada Kota Gouda di Belanda. Kota ini tidak lain adalah tempat kelahiran keju tersebut.

Ciri khas keju gouda warnanya kuning tua. Keju ini masuk golongan keju semi padat dan padat. Rasa keju gouda pun sangat khas yaitu pahit dan pekat. Berkat cirri khas itulah keju gouda memiliki popularitas global.

Cara pembuatan keju gouda pada akhirnya menyebar ke seluruh dunia. Akibatnya keju gouda menjadi sebuah identitas sama halnya dengan keju cheddar dari Inggris. Khusus di Indonesia ada seorang pengusaha keju gouda ini.

Perintis usaha keju lokal Indonesia itu bernama Rachmantio. Dengan perusahaan PT Bukit Baros Cempaka, pria kelahiran Cirebon ini membuat keju gouda dengan waktu pemeraman berkisar 1,5 bulan sampai 4 bulan.

Berbekal ketekunan, keju gouda dengan brand Baros kini bersaing dengan keju-keju impor. Rachmantio memilih keju gouda karena kualitasnya lebih baik disbanding cheddar.

Kini produk keju gouda dari PT Baros sudah masuk ke ritel modern seperti AEON, HERO, Kem Chicks, Grand Lucky, Gelael, Farmers Market, Giant sampai Food Hall.

Sampai-sampai jaringan bisnis boga juga selalu menggunakan produk Baros antara lain Aerowisata, Clairmont Patisserie, Lotteria, Purantara In-Flight Catering, Pizza Izzi, Kartika Sari, Ducth Resto dan produsen es krim Diamond.

Seiring perkembangan pasar, tidak semua pembeli menggunakan keju gouda. Kini keju lokal Indonesia produksi PT Baros juga memiliki keju cheddar, yoghurt dan keju edam. PT Baros lebih suka memproduksi ketimbang menjual.

Itu sebabnya jenis kerjasama yang dipilih adalah kerjasama maklun.

Dari sekian macam keju, keju padat tetap jadi andalan. Seorang klien bisa membuat 20 ton.

Awal Mula Usaha Keju

Pada mulanya Rachmantio tidak terpikir untuk masuk ke usaha keju. Dengan latar belakang pengusaha sukses, ia diberi kesempatan sekolah di Technical University Jerman (kala itu Jerman Barat).

Pada awal 197-an ia kembali ke tanah air. Sang ayah waktu itu merupakan seorang kontraktor. Kerasnya persaingan bisnis konstruksi membuat waktu sang ayah sangat sedikit untuk keluarga. Mulanya Rachmantio tertarik membuka usaha konsultan material.

Tahun 1973, ia mendirikan CV Titan di bidang konstruksi. Belum lama beroperasi, perusahaannya mendapatkan proyek besar. Seiring perkembangan, perusahaan itu berubah menjadi PT Karya Titan. Beberapa proyek yang pernah di garap seperti kantor Honda, tangki Pertamina di Bailkpapan, Telkom di Aceh, sampai pemukiman pengungsi di Pulau Galang.

Konstruksi pernah menjadi bagian dari kisah bisnisnya. Itu sebabnya ada cukup banyak lukisan bertopik pembangunan di kantornya.

Dibalik kesuksesan bisnis itu ia masih memiliki hobi. Pria kelahiran Tangkil, Cirebon ini terbiasa dengan ternak sapi dan ayam. Berbekal keuntungan dari Karya Titan ia pun membeli 26 hektar lahan di Desa Sasagaran, Sukabumi, Jawa Barat. Kini lokasi tersebut dikenal sebagai bukit baros.

Punya pengalaman di konstruksi, ia pun mendatangkan alat berat untuk memperindah lahan tersebut.

Bersama PT Bukit Baros Cempaka, bisnis peternakan dan perkebunan skala kecil dimulai pada tahun 1983. Waktu itu ia memiliki 45 ribu ekor ayam dan 20 ekor sapi. Ia juga mulai menanam cabai.

Tertantang dengan Krisis Moneter

Hobilah yang mengubah arah usaha utama pria ini. Mengalami krisis moneter 1998 ia menyaksikan para petani sapi perah di kawasannya tidak mendapat perhatian pemerintah sehingga mengalami kesulitan usaha.

Merasa tertantang dengan kondisi itu ia mendirikan pabrik konsentrat untuk mendukung para petani tersebut. Ia juga mulai berpikir untuk menampung produksi susu para perternak sapi perah itu.

Sampai akhirnya ia nekat mendirikan pabrik keju gouda agar susu itu bisa diolah.

Pertimbangan kala itu adalah produk keju sulit ditiru. Bahkan Rachmantio mendatangkan tenaga ahli langsung dari Belanda untuk memberikan latihan kepada 11 karyawannya. Di tahun 2002, produksi keju gouda mulai dengan merek Natura. Pada tahun 2014 merek itu diubah menjadi Baros sampai sekarang.

Sebelum mencapai posisinya sekarang, tugas Rachmantio adalah menjual keju. Hal itu karena orang Indonesia sudah terbiasa dengan satu brand keju olahan yang mengandung keju murni sekitar 2 sampai 6%. Inilah kesulitan untuk membesarkan brand bisnisnya. Ia perlu waktu 10 tahun.

Kini Rachmantio menikmati hasil kerja kerasnya. Dengan kapasitas pasteurisasi susu mencapai 3000 liter per jam, PT Bukit Baros sanggup membuat 3 ton keju dalam 10 jam.

Keju Lokal Indonesia Kualitas Impor

Itulah kisah sukses keju lokal Indonesia. Adalah Rachmantio yang telah bekerja keras untuk membesarkan keju gouda. Perjuangannya tentu menjadi inspirasi sukses yang bisa dipelajari oleh kita semua.

2 Comments

  1. Rush Juli 20, 2016
    • Okto Juli 20, 2016

Leave a Reply

CommentLuv badge

Bebas Streaming/Download Pakai Laptop, PC, Smartphone Semua Bisa. Mau?Klik Sini